var config = { //`true` jika pakai, `false` jika tidak lazyads: true, //Lazy Load AdSense infinite_scroll: { //Infinite Scroll di Homepage pakai: true, text: 'Loading...' //Tulisan ketika memuat }, adblock: { //Anti Adblock pakai: true, text: 'Matikan AdBlock pada browser untuk melihat konten blog ini.' }, slider: { //Slider besar di atas pakai: false, kecepatan: 3, //kecepatan jeda slide dalam detik tinggi: 360 //tinggi gambar dalam pixel (px) }, halaman_berjudul: { //Navigasi Halaman dengan Judul di Postingan pakai: true, /* Pengaturan Text */ next: 'Next', prev: 'Previous', latest: 'Latest', oldest: 'Oldest' }, related_post_tengah: { //Artikel Terkait di Tengah Postingan jumlah: 4, image: true, //pakai gambar atau tidak noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-PVJS-O_HWI4/XeCQCsYdF2I/AAAAAAAAIL0/m7lJ8e68_OkMiRwowKFA-UsdcGTpzN2fwCLcBGAsYHQ/s100/igniplex-no-image.png' //gambar dari noimage }, related_post_bawah: { //Artikel Terkait di Bawah Postingan jumlah: 6, image: true, //pakai gambar atau tidak noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-PVJS-O_HWI4/XeCQCsYdF2I/AAAAAAAAIL0/m7lJ8e68_OkMiRwowKFA-UsdcGTpzN2fwCLcBGAsYHQ/s200/igniplex-no-image.png' //gambar dari noimage }, middlebar: { jumlah: 5, image: true, //pakai gambar atau tidak noimage: 'https://1.bp.blogspot.com/-PVJS-O_HWI4/XeCQCsYdF2I/AAAAAAAAIL0/m7lJ8e68_OkMiRwowKFA-UsdcGTpzN2fwCLcBGAsYHQ/s125/igniplex-no-image.png' //gambar dari noimage } };

Makalah Dasar Dasar Pendidikan Tentang : Alat Pendidikan

 




 MAKALAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN
 ALAT PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Pendidikan




DAFTAR ISI 

KATA PENGANTAR        i

DAFTAR ISI        ii

BAB I     PENDAHULUAN        1

Background          1

Rumusan Masalah        2

Tujuan        2

BAB II     PEMBAHASAN         3

Pengertian Alat Pendidikan         3

Macam-Macam Alat Pendidikan         4

Pembiasaan         5

Pengawasan        6

Perintah        6

Larangan         7

Keteladanan         8

Ganjaran         9

Hukuman         9

Hadiah Dan Pujian         10

BAB III    PENUTUP        11

    Kesimpulan         11

DAFTAR PUSTAKA         12

BAB I 

PENDAHULUAN
Background 

Education is a system. As a system, educational activities are built into several components, namely educators, students, educational goals, educational tools, and the educational environment. All the components that make up the education system, are interconnected, interdependent, and determine each other. Each component has their respective functions in order to achieve educational goals. Educational activities will be well organized if supported by these components.


The real function of education is to provide facilities that enable educational tasks to run smoothly, both structurally and institutionally. Structurally, it requires the creation of an organizational structure that regulates the course of the educational process. Institutionally, it implies that the educational process that occurs in the organizational structure is institutionalized to ensure that the educational process runs consistently and continuously following human needs and development which tends towards an optimal level of ability.


People in the implementation of education, sometimes do not realize that education is built into a system, so that in carrying out an assessment of educational activities and outcomes, they only throw the responsibility for the success and failure of education to one group, namely the teacher. Some people do not realize that in fact they are one of the components that determine the success or failure of education. They often pass the responsibility on failing education only to teachers. In the case of teachers, it is only one sub-component of the components in the education system that is organized. Some people connote education with schooling, in that the two have differences, although they still have a relationship.


An understanding of the existence of determinant factors in education is important, because misunderstandings about it can lead to mistakes in making judgments, especially on things that constitute educational failures. It is not uncommon to find an unfair assessment of the community towards an education violation committed by people who are considered educated, on behalf of educational failure, especially school education (formal), of course the target is the teachers. Teachers / educators in schools are only a small part of the education system, only as part of the sub-system of educators in a broad sense, which includes educators in the household, educators in schools, and educators in the community. Through this paper is expected to provide more in-depth information about "Educational Tools".



Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan alat pendidikan?
  2. Apa saja macam-macam alat pendidikan?


Tujuan Makalah

  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan alat pendidikan
  2. Mengetahui apa saja macam-macam alat pendidikan


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Alat Pendidikan

Alat pendidikan adalah segala sesuatu atau apa saja yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan sebagi usaha, juga merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi alat pendidikan dapat alat dari suatu alat, yaitu alat pendidikan. Segala perlengkapan yang dipakai dalam usaha pendidikan disebut dengan alat pendidikan.


Kalau ditinjau dari sudut pandang yang lebih dinamis, maka alat itu di samping sebagai perlengkapan, juga merupakan pembantu untuk mempermudah pencapaian tujuan pendidikan. Dalam pelaksanaan pendidikan, perlengkapan yang akan digunakan harus benar-benar diseleksi, jangan sampai justru menjadi penghambat tercapainya tujuan.


Jika dilihat dari segi fungsinya, alat pendidikan dapat dibagi atas:

  1. Alat sebagai perlengkapan
  2.  Alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan
  3. Alat sebagai tujuan.
  4. Jika dilihat dari segi penggunaannya, alat dapat dibagi atas:
  5. Alat langsung, yaitu alat yang bersifat menganjurkan sejalan dengan maksud usaha. Misalnya segala anjuran, perintah, keharusan dengan segala akibat-akibatnya.
  6. Alat tidak langsung, yaitu alat bersifat pencegahan hal-hal yang bertentang dengan maksud usaha, meliputi segala larangan, peringatan dan jenisnya dengan segala akibat-akibatnya.


Alat pendidikan memiliki persamaan dengan media pendidikan, tetapi juga terdapat perbedaan. Kalau alat pendidikan merupakan segala sesuatu atau apa saja yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Alat lebih mengarah pada apa saja, termasuk segala yang digunakan, baik benda, aktivitas, metode, anjuran, larangan, hukuman, dan semacamnya yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan media mencakup sesuatu yang digunakan untuk mengantar atau menjadi perantara pesan kepada penerima pesan. Jadi media pendidikan adalah apa yang digunakan sebagai perantara antara peserta didik dengan pengetahuan atau bahan ajar yang ada dalam buku-buku atau mengantar peserta didik memahami apa yang diajarkan, baik bersifat perangkat keras (hard ware), mapun perangkat lunak (soft ware). 

Kalau hal itu diakui, maka alat pendidikan lebih luas cakupannya dibandingkan dengan media pendidikan. Suatu alat yang digunakan untuk mengantar pesan-pesan pendidikan atau bahan ajar agar peserta didik sebagai penerima pesan cepat memahami pesan itu, maka ia berfungsi sebagai media. Tetapi jika alat hanya digunakan sebagai alat dalam proses pembelajaran, maka itu hanya sebagai alat.


Macam-Macam Alat Pendidikan

Abdurrahman al-Nahlawi membagi alat-alat pendidikan menjadi dua macam yaitu :alat-alat material dan alat-alat maknawi (psikis)

  • Alat-alat material (pirantikeras / hardware)

Alat-alat tidak konkret seperti isi pendidikan, bahan pelajaran dan metode pendidikan.

  • Alat-alatmaknawi (piranti lunak / software) 

Seperti: gedung sekolah, perpustakaan dan alat peraga, dll.

Menurut Madyo Ekosusilo sebagaimana dikutip oleh Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati membagi alat pendidikan menjadi dua jenis yaitu:

Alat pendidikan yang bersifat materiil yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang nyata.

Alat pendidikan yang bersifat non materiil yaitu alat-alat pendidikan yang tidak bersifat kebendaan melainkan segala macam keadaan atau kondisi, tindakan dan perbuatan yang diadakan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksanakan pendidikan.

Adapun alat pendidikan yang bersifat non materiil contohnya pembiasaan, pengawasan, perintah, larangan, keteladanan, hukuman dan ganjaran, hadiah dan pujian, yang akan dijelaskan berikut ini:

Pembiasaan 

Pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan yang penting sekali, terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Anak-anak kecil belum menginsyafi apa yang dikatakan baik dan apa yang dikatakan buruk dalam arti asusila. Oleh karena itu, pembiasaan merupakan alat satu-satunya. Sejak dilahirkan anak-anak harus dilatih dengan kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti dimandikan dan ditidurkan pada waktu tertentu, diberi makan dengan teratur dan sebagainya.


Anak-anak dapat menurut dan taat kepada peraturan-peraturan dengan jalan membiasakannya dengan perbuatan-perbuatan yang baik, di dalam rumah tangga atau keluarga, di sekolah dan juga di tempat lain. Supaya pembiasaan itu dapat lekas tercapai dan baik hasilnya, harus memenuhi beberapa syarat tertentu, antara lain :

Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, jadi sebelum anak itu mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan.

Pembiasaan itu hendaklah terus menerus (berulang-ulang) dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang otomatis. Untuk itu dibutuhkan pengawasan.

Pendidikan hendaklah konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh terhadap pendiriannya yang telah diambilnya.

Pembiasaan yang mula-mulanya mekanistis itu harus makin menjadi pembiasaan yang disertai kata hati anak itu sendiri.

Pengawasan 

Di atas telah dikatakan bahwa pembiasaan yang baik membutuhkan pengawasan. Pengawasan itu penting sekali dalam mendidik anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya anak tidak akan dapat membedakan yang baik dan yang buruk, tidak mengetahui mana yang seharusnya dihindari atau tidak senonoh dan mana yang boleh dan harus dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang tidak.


Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya, dan menjadi manusia yang hidup menurut nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak patuh dan tidak dapat mengetahui kemana arah hidup yang sebenarnya. Memang, ada pula ahli-ahli didik yang menuntut adanya kebebasan yang penuh dalam pendidikan. Roussean, umpamanya, adalah seorang pendidik yang beranggapan bahwa semua anak yang sejak dilahirkan adalah baik, menganjurkan pendidikan menurut alam. Menurut pendapatnya, anak hendaknya dibiarkan tumbuh menurut alamnya yang baik itu sehingga mengenai hukuman pun Roussean menganjurkan hukuman alami.


Tetapi pendapat para ahli didik sekarang umumnya, sependapat bahwa pengawasan adalah alat pendidikan yang penting dan harus dilaksanakan, biarkan secara berangsur-angsur anak itu harus diberi kebebasan. Pendapat yang akhir ini mengatakan bukankah kebebasan itu yang dijadikan pangkal atau permulaan pendidikan, melainkan kebebasan itu yang hendak diperoleh pada akhirnya.

Perintah 

Suatu perintah atau peraturan dapat mudah ditaati oleh anak-anak jika si pendidik sendiri juga menaati dan hidup menurut peraturan-peraturan itu. Tony. Tidak mungkin suatu aturan sekolah ditaati oleh murid-muridnya jika guru sendiri tidak menaati peraturan yang telah dibuatnya itu.

Syarat-syarat memberi perintah antara lain :

  • Perintah hendaknya terang dan singkat, jangan terlalu banyak komentar, sehingga mudah dimengerti oleh anak.
  • Perintah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan umur anak sehingga jangan sampai memberi perintah yang tidak mungkin dikerjakan oleh anak itu. Tiap-tiap perintah hendaknya disesuaikan dengan kesanggupan anak.
  • Kadang-kadang perlu pula kita mengubah perintah itu menjadi suatu peritah yang lebih bersifat permintaan sehingga tidak terlalu keras kedengarannya. Hal ini berlaku lebih-lebih terhadap anak yang sudah besar.
  • Janganlah terlalu banyak dan berlebihlebihan memberi perintah,sebab dapat mengakibatkan anak itu tidak patuh, tetapi menentang, pendidik hendaklah hemat akan perintah.
  • Pendidik hendaklah konsekuen terhadap apa yang telah diperintahkannya, suatu perintah yang harus ditaati oleh seorang anak, berlaku pula bagi anak lain.
  • Suatu perintah yang bersifat mengajak, sipendidik turut melakukannya, umumnya lebih ditaati oleh anak-anak dan dikerjakannya dengan gembira.

Larangan 

Di samping memberi perintah, sering pula kita harus melarang perbuatan anak-anak. Larangan itu biasanya kita keluarkan jika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, yang merugikan, atau dapat membahayakan dirinya. Seorang ayah dan ibu yang sering melarang perbuatan anaknya, dapat mengakibatkan bermacam-macam sifat atau sikap yang kurang baik pada anak itu, seperti :

  1. Keras kepala atau melawan
  2. Pemalu dan penakut
  3. Perasaan kurang harga diri
  4. Kurang mempunyai perasaan tanggung jawab
  5. Pemurung atau pesimis
  6. Acuh tak acuh terhadap sesuatu (apatis) dan sebagainya.


Syarat-syarat yang harus diperintahkan dalam melakukan larangan diantaranya :

Sama halnya dengan perintah, larangan itu harus diberikan dengan singkat, supaya dimengerti maksud larangan itu.

Jangan terlalu sering melarang, akibatnya tidak baik bagi anak-anak yang masih kecil, larangan dapat dicegah dengan membolehkan perhatian anak kepada sesuatu yang lain, yang menarik minatnya.

Keteladanan 

Dalam pendidikan, alat pendidikan yang paling diutamakan adalah teladan. Pada diri anak-anak terdapat rasa bangga pada orang tua mereka. Dalam istilah agama dikenal dengan Uswatun Hasanah (tauladan yang baik). Terutama dalam masalah ini perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari guru atau pendidik dalam pepatah sering kita dengar bahwa guru kencing berdiri murid kencing berlari. Pendidik dalam konteks ilmu pendidikan islam berfungsi sebagai warasatu al-anbiya. Fungsi ini pada hakikatnya mengemban misi sebagai rahmatan lil ‘alamin yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan taat pada hukum Allah. Misi ini dikembangkan kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh dan berakhlak mulia.


Menurut al Ghazali seperti yang disitir oleh fatiyah hasan sulaiman, terdapat beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai orang yang diteladani, yaitu : amanah dan tekun bekerja, lemah lembut dan kasih sayang terhadap peserta didik, dapat memahami dan berlapang dada dalam ilmu dan terhadap orang-orang yang diajarkan, tidak rakus pada materi, berpengetahuan luas, istiqamah dan memegang teguh prinsip islam. Sifat-sifat penting yang harus ada dalam diri peserta didik menurut al-Ghazali, yaitu: rendah hati, mensucikan diri dari segala keburukan, taat dan istiqamah.

Ganjaran 

Ganjaran adalah salah satu alat pendidikan yang untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Pendidik bermaksud suapaya dengan ganjaran itu anak menjadi lebih giat lagi usahanya untuk mempertinggi prestasi yang telah dicapainya untuk bekerja atau berbuat lebih lagi.

Beberapa macam perbuatan atau sikap pendidik yang dapat merupakan ganjaran bagi anak didiknya.

Guru mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.

Guru memberi kata-kata yang menggembirakan (pujian) seperti, ”Rupanya sudah baik pula tulisanmu, mun, kalau kamu terus berlatih, tentu akan lebih baik lagi”.

Pekerjaan dapat juga menjadi suatu ganjaran. Contoh ”Engkau akan segera saya beri soal yang lebih sukar sedikit, Ali, karena yang nomor 3 ini rupa-rupanya agak terlalu baik engkau kerjakan.

Ganjaran dapat juga berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak. Misalnya pensil, buku tulis, gula-gula atau makanan yang lain.

Hukuman 

Hukuman ialah memberikan atau mengadakan nestapa atau penderitaan dengan sengaja kepada anak didik dengan maksud agar penderitaan tersebut betul-betul dirasakannya, bukan untuk meniksa si anak didik tetapi untuk menuju kearah perbaikan.



Hadiah dan Pujian 

Pemberian hadiah dan pujian merupakan reward atau penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak. Hal ini sangat diperlukan dalam hubungannya dengan minat dan penerapan disiplin pada anak. Reward atau penghargaan memiliki tiga fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku yang disetujui secara sosial. Fungsi yang pertama ialah memiliki nilai pendidikan. Yang kedua, pemberian reward harus menjadi motivasi bagi anak untuk mengulangi perilaku yang diterima oleh lingkungan atau masyarakat. Melalui reward, anak justru akan lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku yang memang diharapkan oleh masyarakat. Fungsi yang terakhir ialah untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut. Dengan kata lain, anak akan mengasosiasikan reward dengan perilaku yang disetujui masyarakat.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan 

Alat pendidikan berperan penting dalam proses belajar mengajar untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sesuai dengan harapan. Peran alat pendidikan perlu dikembangkan secara optimal agar menunjang kelancaran proses pendidikan. 


Alat pendidikan itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu alat pendidikan material dan alat pendidikan non material. Alat pendidikan material adalah segala bentuk perlengkapan yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar yang mencakup sarana dan prasarana. Sebaliknya, alat pendidikan non material adalah berupa suatu tindakan dan perbuatan atau situasi yang dengan sengaja dilakukan untuk membantu pencapaian tujuan pendidikan. Karakteristik alat pendidikan menjadi bagian yang perlu dipahami oleh pendidik dalam melaksanakan proses pendidikan.


Penggunaaan alat pendidikan dipengaruhi oleh kecakapan pendidik yang harus menyesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, dan sebagai seorang pendidik sebaiknya harus menghindari tindakan yang memaksa. Penggunaan alat pendidikan juga dipengaruhi oleh pribadi yang akan memakainya. Pemakai alat pendidikan juga harus dapat menyesuaikan diri dengan tujuan yang dikandung oleh alat itu. Penggunaan alat pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan sifat kepribadian pemakainya yang merupakan sifat khas dari alat pendidikan

selain alat pendidikan, pada bab sebelumnya kita juga sudah membahas tentang macam-macam dan jenis pendidikan yang juga dipublikasikan 





DAFTAR PUSTAKA

Dari Buku:

Asnawir dan Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran, Jakarta Selatan: Ciputat Press.

Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati. 2003. Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Syukur, Fatah. 2004. Teknologi Pendidikan, Semarang: Rasail..


Makalah Dasar Dasar Pendidikan Tentang : Alat Pendidikan

 




 MAKALAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN
 ALAT PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Pendidikan




DAFTAR ISI 

KATA PENGANTAR        i

DAFTAR ISI        ii

BAB I     PENDAHULUAN        1

Background          1

Rumusan Masalah        2

Tujuan        2

BAB II     PEMBAHASAN         3

Pengertian Alat Pendidikan         3

Macam-Macam Alat Pendidikan         4

Pembiasaan         5

Pengawasan        6

Perintah        6

Larangan         7

Keteladanan         8

Ganjaran         9

Hukuman         9

Hadiah Dan Pujian         10

BAB III    PENUTUP        11

    Kesimpulan         11

DAFTAR PUSTAKA         12

BAB I 

PENDAHULUAN
Background 

Education is a system. As a system, educational activities are built into several components, namely educators, students, educational goals, educational tools, and the educational environment. All the components that make up the education system, are interconnected, interdependent, and determine each other. Each component has their respective functions in order to achieve educational goals. Educational activities will be well organized if supported by these components.


The real function of education is to provide facilities that enable educational tasks to run smoothly, both structurally and institutionally. Structurally, it requires the creation of an organizational structure that regulates the course of the educational process. Institutionally, it implies that the educational process that occurs in the organizational structure is institutionalized to ensure that the educational process runs consistently and continuously following human needs and development which tends towards an optimal level of ability.


People in the implementation of education, sometimes do not realize that education is built into a system, so that in carrying out an assessment of educational activities and outcomes, they only throw the responsibility for the success and failure of education to one group, namely the teacher. Some people do not realize that in fact they are one of the components that determine the success or failure of education. They often pass the responsibility on failing education only to teachers. In the case of teachers, it is only one sub-component of the components in the education system that is organized. Some people connote education with schooling, in that the two have differences, although they still have a relationship.


An understanding of the existence of determinant factors in education is important, because misunderstandings about it can lead to mistakes in making judgments, especially on things that constitute educational failures. It is not uncommon to find an unfair assessment of the community towards an education violation committed by people who are considered educated, on behalf of educational failure, especially school education (formal), of course the target is the teachers. Teachers / educators in schools are only a small part of the education system, only as part of the sub-system of educators in a broad sense, which includes educators in the household, educators in schools, and educators in the community. Through this paper is expected to provide more in-depth information about "Educational Tools".



Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan alat pendidikan?
  2. Apa saja macam-macam alat pendidikan?


Tujuan Makalah

  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan alat pendidikan
  2. Mengetahui apa saja macam-macam alat pendidikan


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Alat Pendidikan

Alat pendidikan adalah segala sesuatu atau apa saja yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan sebagi usaha, juga merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi alat pendidikan dapat alat dari suatu alat, yaitu alat pendidikan. Segala perlengkapan yang dipakai dalam usaha pendidikan disebut dengan alat pendidikan.


Kalau ditinjau dari sudut pandang yang lebih dinamis, maka alat itu di samping sebagai perlengkapan, juga merupakan pembantu untuk mempermudah pencapaian tujuan pendidikan. Dalam pelaksanaan pendidikan, perlengkapan yang akan digunakan harus benar-benar diseleksi, jangan sampai justru menjadi penghambat tercapainya tujuan.


Jika dilihat dari segi fungsinya, alat pendidikan dapat dibagi atas:

  1. Alat sebagai perlengkapan
  2.  Alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan
  3. Alat sebagai tujuan.
  4. Jika dilihat dari segi penggunaannya, alat dapat dibagi atas:
  5. Alat langsung, yaitu alat yang bersifat menganjurkan sejalan dengan maksud usaha. Misalnya segala anjuran, perintah, keharusan dengan segala akibat-akibatnya.
  6. Alat tidak langsung, yaitu alat bersifat pencegahan hal-hal yang bertentang dengan maksud usaha, meliputi segala larangan, peringatan dan jenisnya dengan segala akibat-akibatnya.


Alat pendidikan memiliki persamaan dengan media pendidikan, tetapi juga terdapat perbedaan. Kalau alat pendidikan merupakan segala sesuatu atau apa saja yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Alat lebih mengarah pada apa saja, termasuk segala yang digunakan, baik benda, aktivitas, metode, anjuran, larangan, hukuman, dan semacamnya yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan media mencakup sesuatu yang digunakan untuk mengantar atau menjadi perantara pesan kepada penerima pesan. Jadi media pendidikan adalah apa yang digunakan sebagai perantara antara peserta didik dengan pengetahuan atau bahan ajar yang ada dalam buku-buku atau mengantar peserta didik memahami apa yang diajarkan, baik bersifat perangkat keras (hard ware), mapun perangkat lunak (soft ware). 

Kalau hal itu diakui, maka alat pendidikan lebih luas cakupannya dibandingkan dengan media pendidikan. Suatu alat yang digunakan untuk mengantar pesan-pesan pendidikan atau bahan ajar agar peserta didik sebagai penerima pesan cepat memahami pesan itu, maka ia berfungsi sebagai media. Tetapi jika alat hanya digunakan sebagai alat dalam proses pembelajaran, maka itu hanya sebagai alat.


Macam-Macam Alat Pendidikan

Abdurrahman al-Nahlawi membagi alat-alat pendidikan menjadi dua macam yaitu :alat-alat material dan alat-alat maknawi (psikis)

  • Alat-alat material (pirantikeras / hardware)

Alat-alat tidak konkret seperti isi pendidikan, bahan pelajaran dan metode pendidikan.

  • Alat-alatmaknawi (piranti lunak / software) 

Seperti: gedung sekolah, perpustakaan dan alat peraga, dll.

Menurut Madyo Ekosusilo sebagaimana dikutip oleh Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati membagi alat pendidikan menjadi dua jenis yaitu:

Alat pendidikan yang bersifat materiil yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang nyata.

Alat pendidikan yang bersifat non materiil yaitu alat-alat pendidikan yang tidak bersifat kebendaan melainkan segala macam keadaan atau kondisi, tindakan dan perbuatan yang diadakan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksanakan pendidikan.

Adapun alat pendidikan yang bersifat non materiil contohnya pembiasaan, pengawasan, perintah, larangan, keteladanan, hukuman dan ganjaran, hadiah dan pujian, yang akan dijelaskan berikut ini:

Pembiasaan 

Pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan yang penting sekali, terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Anak-anak kecil belum menginsyafi apa yang dikatakan baik dan apa yang dikatakan buruk dalam arti asusila. Oleh karena itu, pembiasaan merupakan alat satu-satunya. Sejak dilahirkan anak-anak harus dilatih dengan kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti dimandikan dan ditidurkan pada waktu tertentu, diberi makan dengan teratur dan sebagainya.


Anak-anak dapat menurut dan taat kepada peraturan-peraturan dengan jalan membiasakannya dengan perbuatan-perbuatan yang baik, di dalam rumah tangga atau keluarga, di sekolah dan juga di tempat lain. Supaya pembiasaan itu dapat lekas tercapai dan baik hasilnya, harus memenuhi beberapa syarat tertentu, antara lain :

Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, jadi sebelum anak itu mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan.

Pembiasaan itu hendaklah terus menerus (berulang-ulang) dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang otomatis. Untuk itu dibutuhkan pengawasan.

Pendidikan hendaklah konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh terhadap pendiriannya yang telah diambilnya.

Pembiasaan yang mula-mulanya mekanistis itu harus makin menjadi pembiasaan yang disertai kata hati anak itu sendiri.

Pengawasan 

Di atas telah dikatakan bahwa pembiasaan yang baik membutuhkan pengawasan. Pengawasan itu penting sekali dalam mendidik anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya anak tidak akan dapat membedakan yang baik dan yang buruk, tidak mengetahui mana yang seharusnya dihindari atau tidak senonoh dan mana yang boleh dan harus dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang tidak.


Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya, dan menjadi manusia yang hidup menurut nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak patuh dan tidak dapat mengetahui kemana arah hidup yang sebenarnya. Memang, ada pula ahli-ahli didik yang menuntut adanya kebebasan yang penuh dalam pendidikan. Roussean, umpamanya, adalah seorang pendidik yang beranggapan bahwa semua anak yang sejak dilahirkan adalah baik, menganjurkan pendidikan menurut alam. Menurut pendapatnya, anak hendaknya dibiarkan tumbuh menurut alamnya yang baik itu sehingga mengenai hukuman pun Roussean menganjurkan hukuman alami.


Tetapi pendapat para ahli didik sekarang umumnya, sependapat bahwa pengawasan adalah alat pendidikan yang penting dan harus dilaksanakan, biarkan secara berangsur-angsur anak itu harus diberi kebebasan. Pendapat yang akhir ini mengatakan bukankah kebebasan itu yang dijadikan pangkal atau permulaan pendidikan, melainkan kebebasan itu yang hendak diperoleh pada akhirnya.

Perintah 

Suatu perintah atau peraturan dapat mudah ditaati oleh anak-anak jika si pendidik sendiri juga menaati dan hidup menurut peraturan-peraturan itu. Tony. Tidak mungkin suatu aturan sekolah ditaati oleh murid-muridnya jika guru sendiri tidak menaati peraturan yang telah dibuatnya itu.

Syarat-syarat memberi perintah antara lain :

  • Perintah hendaknya terang dan singkat, jangan terlalu banyak komentar, sehingga mudah dimengerti oleh anak.
  • Perintah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan umur anak sehingga jangan sampai memberi perintah yang tidak mungkin dikerjakan oleh anak itu. Tiap-tiap perintah hendaknya disesuaikan dengan kesanggupan anak.
  • Kadang-kadang perlu pula kita mengubah perintah itu menjadi suatu peritah yang lebih bersifat permintaan sehingga tidak terlalu keras kedengarannya. Hal ini berlaku lebih-lebih terhadap anak yang sudah besar.
  • Janganlah terlalu banyak dan berlebihlebihan memberi perintah,sebab dapat mengakibatkan anak itu tidak patuh, tetapi menentang, pendidik hendaklah hemat akan perintah.
  • Pendidik hendaklah konsekuen terhadap apa yang telah diperintahkannya, suatu perintah yang harus ditaati oleh seorang anak, berlaku pula bagi anak lain.
  • Suatu perintah yang bersifat mengajak, sipendidik turut melakukannya, umumnya lebih ditaati oleh anak-anak dan dikerjakannya dengan gembira.

Larangan 

Di samping memberi perintah, sering pula kita harus melarang perbuatan anak-anak. Larangan itu biasanya kita keluarkan jika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, yang merugikan, atau dapat membahayakan dirinya. Seorang ayah dan ibu yang sering melarang perbuatan anaknya, dapat mengakibatkan bermacam-macam sifat atau sikap yang kurang baik pada anak itu, seperti :

  1. Keras kepala atau melawan
  2. Pemalu dan penakut
  3. Perasaan kurang harga diri
  4. Kurang mempunyai perasaan tanggung jawab
  5. Pemurung atau pesimis
  6. Acuh tak acuh terhadap sesuatu (apatis) dan sebagainya.


Syarat-syarat yang harus diperintahkan dalam melakukan larangan diantaranya :

Sama halnya dengan perintah, larangan itu harus diberikan dengan singkat, supaya dimengerti maksud larangan itu.

Jangan terlalu sering melarang, akibatnya tidak baik bagi anak-anak yang masih kecil, larangan dapat dicegah dengan membolehkan perhatian anak kepada sesuatu yang lain, yang menarik minatnya.

Keteladanan 

Dalam pendidikan, alat pendidikan yang paling diutamakan adalah teladan. Pada diri anak-anak terdapat rasa bangga pada orang tua mereka. Dalam istilah agama dikenal dengan Uswatun Hasanah (tauladan yang baik). Terutama dalam masalah ini perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari guru atau pendidik dalam pepatah sering kita dengar bahwa guru kencing berdiri murid kencing berlari. Pendidik dalam konteks ilmu pendidikan islam berfungsi sebagai warasatu al-anbiya. Fungsi ini pada hakikatnya mengemban misi sebagai rahmatan lil ‘alamin yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan taat pada hukum Allah. Misi ini dikembangkan kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh dan berakhlak mulia.


Menurut al Ghazali seperti yang disitir oleh fatiyah hasan sulaiman, terdapat beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai orang yang diteladani, yaitu : amanah dan tekun bekerja, lemah lembut dan kasih sayang terhadap peserta didik, dapat memahami dan berlapang dada dalam ilmu dan terhadap orang-orang yang diajarkan, tidak rakus pada materi, berpengetahuan luas, istiqamah dan memegang teguh prinsip islam. Sifat-sifat penting yang harus ada dalam diri peserta didik menurut al-Ghazali, yaitu: rendah hati, mensucikan diri dari segala keburukan, taat dan istiqamah.

Ganjaran 

Ganjaran adalah salah satu alat pendidikan yang untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Pendidik bermaksud suapaya dengan ganjaran itu anak menjadi lebih giat lagi usahanya untuk mempertinggi prestasi yang telah dicapainya untuk bekerja atau berbuat lebih lagi.

Beberapa macam perbuatan atau sikap pendidik yang dapat merupakan ganjaran bagi anak didiknya.

Guru mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.

Guru memberi kata-kata yang menggembirakan (pujian) seperti, ”Rupanya sudah baik pula tulisanmu, mun, kalau kamu terus berlatih, tentu akan lebih baik lagi”.

Pekerjaan dapat juga menjadi suatu ganjaran. Contoh ”Engkau akan segera saya beri soal yang lebih sukar sedikit, Ali, karena yang nomor 3 ini rupa-rupanya agak terlalu baik engkau kerjakan.

Ganjaran dapat juga berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak. Misalnya pensil, buku tulis, gula-gula atau makanan yang lain.

Hukuman 

Hukuman ialah memberikan atau mengadakan nestapa atau penderitaan dengan sengaja kepada anak didik dengan maksud agar penderitaan tersebut betul-betul dirasakannya, bukan untuk meniksa si anak didik tetapi untuk menuju kearah perbaikan.



Hadiah dan Pujian 

Pemberian hadiah dan pujian merupakan reward atau penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak. Hal ini sangat diperlukan dalam hubungannya dengan minat dan penerapan disiplin pada anak. Reward atau penghargaan memiliki tiga fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku yang disetujui secara sosial. Fungsi yang pertama ialah memiliki nilai pendidikan. Yang kedua, pemberian reward harus menjadi motivasi bagi anak untuk mengulangi perilaku yang diterima oleh lingkungan atau masyarakat. Melalui reward, anak justru akan lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku yang memang diharapkan oleh masyarakat. Fungsi yang terakhir ialah untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut. Dengan kata lain, anak akan mengasosiasikan reward dengan perilaku yang disetujui masyarakat.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan 

Alat pendidikan berperan penting dalam proses belajar mengajar untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sesuai dengan harapan. Peran alat pendidikan perlu dikembangkan secara optimal agar menunjang kelancaran proses pendidikan. 


Alat pendidikan itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu alat pendidikan material dan alat pendidikan non material. Alat pendidikan material adalah segala bentuk perlengkapan yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar yang mencakup sarana dan prasarana. Sebaliknya, alat pendidikan non material adalah berupa suatu tindakan dan perbuatan atau situasi yang dengan sengaja dilakukan untuk membantu pencapaian tujuan pendidikan. Karakteristik alat pendidikan menjadi bagian yang perlu dipahami oleh pendidik dalam melaksanakan proses pendidikan.


Penggunaaan alat pendidikan dipengaruhi oleh kecakapan pendidik yang harus menyesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, dan sebagai seorang pendidik sebaiknya harus menghindari tindakan yang memaksa. Penggunaan alat pendidikan juga dipengaruhi oleh pribadi yang akan memakainya. Pemakai alat pendidikan juga harus dapat menyesuaikan diri dengan tujuan yang dikandung oleh alat itu. Penggunaan alat pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan sifat kepribadian pemakainya yang merupakan sifat khas dari alat pendidikan

selain alat pendidikan, pada bab sebelumnya kita juga sudah membahas tentang macam-macam dan jenis pendidikan yang juga dipublikasikan 





DAFTAR PUSTAKA

Dari Buku:

Asnawir dan Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran, Jakarta Selatan: Ciputat Press.

Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati. 2003. Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Syukur, Fatah. 2004. Teknologi Pendidikan, Semarang: Rasail..


Makalah Dasar Dasar Pendidikan Tentang : Alat Pendidikan

 




 MAKALAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN
 ALAT PENDIDIKAN

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Dasar-Dasar Pendidikan




DAFTAR ISI 

KATA PENGANTAR        i

DAFTAR ISI        ii

BAB I     PENDAHULUAN        1

Background          1

Rumusan Masalah        2

Tujuan        2

BAB II     PEMBAHASAN         3

Pengertian Alat Pendidikan         3

Macam-Macam Alat Pendidikan         4

Pembiasaan         5

Pengawasan        6

Perintah        6

Larangan         7

Keteladanan         8

Ganjaran         9

Hukuman         9

Hadiah Dan Pujian         10

BAB III    PENUTUP        11

    Kesimpulan         11

DAFTAR PUSTAKA         12

BAB I 

PENDAHULUAN
Background 

Education is a system. As a system, educational activities are built into several components, namely educators, students, educational goals, educational tools, and the educational environment. All the components that make up the education system, are interconnected, interdependent, and determine each other. Each component has their respective functions in order to achieve educational goals. Educational activities will be well organized if supported by these components.


The real function of education is to provide facilities that enable educational tasks to run smoothly, both structurally and institutionally. Structurally, it requires the creation of an organizational structure that regulates the course of the educational process. Institutionally, it implies that the educational process that occurs in the organizational structure is institutionalized to ensure that the educational process runs consistently and continuously following human needs and development which tends towards an optimal level of ability.


People in the implementation of education, sometimes do not realize that education is built into a system, so that in carrying out an assessment of educational activities and outcomes, they only throw the responsibility for the success and failure of education to one group, namely the teacher. Some people do not realize that in fact they are one of the components that determine the success or failure of education. They often pass the responsibility on failing education only to teachers. In the case of teachers, it is only one sub-component of the components in the education system that is organized. Some people connote education with schooling, in that the two have differences, although they still have a relationship.


An understanding of the existence of determinant factors in education is important, because misunderstandings about it can lead to mistakes in making judgments, especially on things that constitute educational failures. It is not uncommon to find an unfair assessment of the community towards an education violation committed by people who are considered educated, on behalf of educational failure, especially school education (formal), of course the target is the teachers. Teachers / educators in schools are only a small part of the education system, only as part of the sub-system of educators in a broad sense, which includes educators in the household, educators in schools, and educators in the community. Through this paper is expected to provide more in-depth information about "Educational Tools".



Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan alat pendidikan?
  2. Apa saja macam-macam alat pendidikan?


Tujuan Makalah

  1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan alat pendidikan
  2. Mengetahui apa saja macam-macam alat pendidikan


BAB II
PEMBAHASAN

Pengertian Alat Pendidikan

Alat pendidikan adalah segala sesuatu atau apa saja yang dipergunakan dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan sebagi usaha, juga merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Jadi alat pendidikan dapat alat dari suatu alat, yaitu alat pendidikan. Segala perlengkapan yang dipakai dalam usaha pendidikan disebut dengan alat pendidikan.


Kalau ditinjau dari sudut pandang yang lebih dinamis, maka alat itu di samping sebagai perlengkapan, juga merupakan pembantu untuk mempermudah pencapaian tujuan pendidikan. Dalam pelaksanaan pendidikan, perlengkapan yang akan digunakan harus benar-benar diseleksi, jangan sampai justru menjadi penghambat tercapainya tujuan.


Jika dilihat dari segi fungsinya, alat pendidikan dapat dibagi atas:

  1. Alat sebagai perlengkapan
  2.  Alat sebagai pembantu mempermudah usaha mencapai tujuan
  3. Alat sebagai tujuan.
  4. Jika dilihat dari segi penggunaannya, alat dapat dibagi atas:
  5. Alat langsung, yaitu alat yang bersifat menganjurkan sejalan dengan maksud usaha. Misalnya segala anjuran, perintah, keharusan dengan segala akibat-akibatnya.
  6. Alat tidak langsung, yaitu alat bersifat pencegahan hal-hal yang bertentang dengan maksud usaha, meliputi segala larangan, peringatan dan jenisnya dengan segala akibat-akibatnya.


Alat pendidikan memiliki persamaan dengan media pendidikan, tetapi juga terdapat perbedaan. Kalau alat pendidikan merupakan segala sesuatu atau apa saja yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Alat lebih mengarah pada apa saja, termasuk segala yang digunakan, baik benda, aktivitas, metode, anjuran, larangan, hukuman, dan semacamnya yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan media mencakup sesuatu yang digunakan untuk mengantar atau menjadi perantara pesan kepada penerima pesan. Jadi media pendidikan adalah apa yang digunakan sebagai perantara antara peserta didik dengan pengetahuan atau bahan ajar yang ada dalam buku-buku atau mengantar peserta didik memahami apa yang diajarkan, baik bersifat perangkat keras (hard ware), mapun perangkat lunak (soft ware). 

Kalau hal itu diakui, maka alat pendidikan lebih luas cakupannya dibandingkan dengan media pendidikan. Suatu alat yang digunakan untuk mengantar pesan-pesan pendidikan atau bahan ajar agar peserta didik sebagai penerima pesan cepat memahami pesan itu, maka ia berfungsi sebagai media. Tetapi jika alat hanya digunakan sebagai alat dalam proses pembelajaran, maka itu hanya sebagai alat.


Macam-Macam Alat Pendidikan

Abdurrahman al-Nahlawi membagi alat-alat pendidikan menjadi dua macam yaitu :alat-alat material dan alat-alat maknawi (psikis)

  • Alat-alat material (pirantikeras / hardware)

Alat-alat tidak konkret seperti isi pendidikan, bahan pelajaran dan metode pendidikan.

  • Alat-alatmaknawi (piranti lunak / software) 

Seperti: gedung sekolah, perpustakaan dan alat peraga, dll.

Menurut Madyo Ekosusilo sebagaimana dikutip oleh Abu Ahmadi dan Nur Uhbiyati membagi alat pendidikan menjadi dua jenis yaitu:

Alat pendidikan yang bersifat materiil yaitu alat-alat pengajaran yang berupa benda-benda yang nyata.

Alat pendidikan yang bersifat non materiil yaitu alat-alat pendidikan yang tidak bersifat kebendaan melainkan segala macam keadaan atau kondisi, tindakan dan perbuatan yang diadakan atau dilakukan dengan sengaja sebagai sarana dalam melaksanakan pendidikan.

Adapun alat pendidikan yang bersifat non materiil contohnya pembiasaan, pengawasan, perintah, larangan, keteladanan, hukuman dan ganjaran, hadiah dan pujian, yang akan dijelaskan berikut ini:

Pembiasaan 

Pembiasaan adalah salah satu alat pendidikan yang penting sekali, terutama bagi anak-anak yang masih kecil. Anak-anak kecil belum menginsyafi apa yang dikatakan baik dan apa yang dikatakan buruk dalam arti asusila. Oleh karena itu, pembiasaan merupakan alat satu-satunya. Sejak dilahirkan anak-anak harus dilatih dengan kebiasaan-kebiasaan dan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti dimandikan dan ditidurkan pada waktu tertentu, diberi makan dengan teratur dan sebagainya.


Anak-anak dapat menurut dan taat kepada peraturan-peraturan dengan jalan membiasakannya dengan perbuatan-perbuatan yang baik, di dalam rumah tangga atau keluarga, di sekolah dan juga di tempat lain. Supaya pembiasaan itu dapat lekas tercapai dan baik hasilnya, harus memenuhi beberapa syarat tertentu, antara lain :

Mulailah pembiasaan itu sebelum terlambat, jadi sebelum anak itu mempunyai kebiasaan lain yang berlawanan dengan hal-hal yang akan dibiasakan.

Pembiasaan itu hendaklah terus menerus (berulang-ulang) dijalankan secara teratur sehingga akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang otomatis. Untuk itu dibutuhkan pengawasan.

Pendidikan hendaklah konsekuen, bersikap tegas dan tetap teguh terhadap pendiriannya yang telah diambilnya.

Pembiasaan yang mula-mulanya mekanistis itu harus makin menjadi pembiasaan yang disertai kata hati anak itu sendiri.

Pengawasan 

Di atas telah dikatakan bahwa pembiasaan yang baik membutuhkan pengawasan. Pengawasan itu penting sekali dalam mendidik anak. Tanpa pengawasan berarti membiarkan anak berbuat sekehendaknya anak tidak akan dapat membedakan yang baik dan yang buruk, tidak mengetahui mana yang seharusnya dihindari atau tidak senonoh dan mana yang boleh dan harus dilaksanakan, mana yang membahayakan dan mana yang tidak.


Anak yang dibiarkan tumbuh sendiri menurut alamnya, dan menjadi manusia yang hidup menurut nafsunya saja. Kemungkinan besar anak itu menjadi tidak patuh dan tidak dapat mengetahui kemana arah hidup yang sebenarnya. Memang, ada pula ahli-ahli didik yang menuntut adanya kebebasan yang penuh dalam pendidikan. Roussean, umpamanya, adalah seorang pendidik yang beranggapan bahwa semua anak yang sejak dilahirkan adalah baik, menganjurkan pendidikan menurut alam. Menurut pendapatnya, anak hendaknya dibiarkan tumbuh menurut alamnya yang baik itu sehingga mengenai hukuman pun Roussean menganjurkan hukuman alami.


Tetapi pendapat para ahli didik sekarang umumnya, sependapat bahwa pengawasan adalah alat pendidikan yang penting dan harus dilaksanakan, biarkan secara berangsur-angsur anak itu harus diberi kebebasan. Pendapat yang akhir ini mengatakan bukankah kebebasan itu yang dijadikan pangkal atau permulaan pendidikan, melainkan kebebasan itu yang hendak diperoleh pada akhirnya.

Perintah 

Suatu perintah atau peraturan dapat mudah ditaati oleh anak-anak jika si pendidik sendiri juga menaati dan hidup menurut peraturan-peraturan itu. Tony. Tidak mungkin suatu aturan sekolah ditaati oleh murid-muridnya jika guru sendiri tidak menaati peraturan yang telah dibuatnya itu.

Syarat-syarat memberi perintah antara lain :

  • Perintah hendaknya terang dan singkat, jangan terlalu banyak komentar, sehingga mudah dimengerti oleh anak.
  • Perintah hendaknya disesuaikan dengan keadaan dan umur anak sehingga jangan sampai memberi perintah yang tidak mungkin dikerjakan oleh anak itu. Tiap-tiap perintah hendaknya disesuaikan dengan kesanggupan anak.
  • Kadang-kadang perlu pula kita mengubah perintah itu menjadi suatu peritah yang lebih bersifat permintaan sehingga tidak terlalu keras kedengarannya. Hal ini berlaku lebih-lebih terhadap anak yang sudah besar.
  • Janganlah terlalu banyak dan berlebihlebihan memberi perintah,sebab dapat mengakibatkan anak itu tidak patuh, tetapi menentang, pendidik hendaklah hemat akan perintah.
  • Pendidik hendaklah konsekuen terhadap apa yang telah diperintahkannya, suatu perintah yang harus ditaati oleh seorang anak, berlaku pula bagi anak lain.
  • Suatu perintah yang bersifat mengajak, sipendidik turut melakukannya, umumnya lebih ditaati oleh anak-anak dan dikerjakannya dengan gembira.

Larangan 

Di samping memberi perintah, sering pula kita harus melarang perbuatan anak-anak. Larangan itu biasanya kita keluarkan jika anak melakukan sesuatu yang tidak baik, yang merugikan, atau dapat membahayakan dirinya. Seorang ayah dan ibu yang sering melarang perbuatan anaknya, dapat mengakibatkan bermacam-macam sifat atau sikap yang kurang baik pada anak itu, seperti :

  1. Keras kepala atau melawan
  2. Pemalu dan penakut
  3. Perasaan kurang harga diri
  4. Kurang mempunyai perasaan tanggung jawab
  5. Pemurung atau pesimis
  6. Acuh tak acuh terhadap sesuatu (apatis) dan sebagainya.


Syarat-syarat yang harus diperintahkan dalam melakukan larangan diantaranya :

Sama halnya dengan perintah, larangan itu harus diberikan dengan singkat, supaya dimengerti maksud larangan itu.

Jangan terlalu sering melarang, akibatnya tidak baik bagi anak-anak yang masih kecil, larangan dapat dicegah dengan membolehkan perhatian anak kepada sesuatu yang lain, yang menarik minatnya.

Keteladanan 

Dalam pendidikan, alat pendidikan yang paling diutamakan adalah teladan. Pada diri anak-anak terdapat rasa bangga pada orang tua mereka. Dalam istilah agama dikenal dengan Uswatun Hasanah (tauladan yang baik). Terutama dalam masalah ini perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh dari guru atau pendidik dalam pepatah sering kita dengar bahwa guru kencing berdiri murid kencing berlari. Pendidik dalam konteks ilmu pendidikan islam berfungsi sebagai warasatu al-anbiya. Fungsi ini pada hakikatnya mengemban misi sebagai rahmatan lil ‘alamin yakni suatu misi yang mengajak manusia untuk tunduk dan taat pada hukum Allah. Misi ini dikembangkan kepada pembentukan kepribadian yang berjiwa tauhid, kreatif, beramal shaleh dan berakhlak mulia.


Menurut al Ghazali seperti yang disitir oleh fatiyah hasan sulaiman, terdapat beberapa sifat penting yang harus dimiliki oleh pendidik sebagai orang yang diteladani, yaitu : amanah dan tekun bekerja, lemah lembut dan kasih sayang terhadap peserta didik, dapat memahami dan berlapang dada dalam ilmu dan terhadap orang-orang yang diajarkan, tidak rakus pada materi, berpengetahuan luas, istiqamah dan memegang teguh prinsip islam. Sifat-sifat penting yang harus ada dalam diri peserta didik menurut al-Ghazali, yaitu: rendah hati, mensucikan diri dari segala keburukan, taat dan istiqamah.

Ganjaran 

Ganjaran adalah salah satu alat pendidikan yang untuk mendidik anak-anak supaya anak dapat merasa senang karena perbuatan atau pekerjaannya mendapat penghargaan. Pendidik bermaksud suapaya dengan ganjaran itu anak menjadi lebih giat lagi usahanya untuk mempertinggi prestasi yang telah dicapainya untuk bekerja atau berbuat lebih lagi.

Beberapa macam perbuatan atau sikap pendidik yang dapat merupakan ganjaran bagi anak didiknya.

Guru mengangguk-angguk tanda senang dan membenarkan suatu jawaban yang diberikan oleh seorang anak.

Guru memberi kata-kata yang menggembirakan (pujian) seperti, ”Rupanya sudah baik pula tulisanmu, mun, kalau kamu terus berlatih, tentu akan lebih baik lagi”.

Pekerjaan dapat juga menjadi suatu ganjaran. Contoh ”Engkau akan segera saya beri soal yang lebih sukar sedikit, Ali, karena yang nomor 3 ini rupa-rupanya agak terlalu baik engkau kerjakan.

Ganjaran dapat juga berupa benda-benda yang menyenangkan dan berguna bagi anak-anak. Misalnya pensil, buku tulis, gula-gula atau makanan yang lain.

Hukuman 

Hukuman ialah memberikan atau mengadakan nestapa atau penderitaan dengan sengaja kepada anak didik dengan maksud agar penderitaan tersebut betul-betul dirasakannya, bukan untuk meniksa si anak didik tetapi untuk menuju kearah perbaikan.



Hadiah dan Pujian 

Pemberian hadiah dan pujian merupakan reward atau penghargaan atas perilaku baik yang dilakukan anak. Hal ini sangat diperlukan dalam hubungannya dengan minat dan penerapan disiplin pada anak. Reward atau penghargaan memiliki tiga fungsi penting dalam mengajari anak berperilaku yang disetujui secara sosial. Fungsi yang pertama ialah memiliki nilai pendidikan. Yang kedua, pemberian reward harus menjadi motivasi bagi anak untuk mengulangi perilaku yang diterima oleh lingkungan atau masyarakat. Melalui reward, anak justru akan lebih termotivasi untuk mengulangi perilaku yang memang diharapkan oleh masyarakat. Fungsi yang terakhir ialah untuk memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial dan tiadanya penghargaan melemahkan keinginan untuk mengulangi perilaku tersebut. Dengan kata lain, anak akan mengasosiasikan reward dengan perilaku yang disetujui masyarakat.




BAB III
PENUTUP
Kesimpulan 

Alat pendidikan berperan penting dalam proses belajar mengajar untuk mewujudkan tujuan pendidikan yang sesuai dengan harapan. Peran alat pendidikan perlu dikembangkan secara optimal agar menunjang kelancaran proses pendidikan. 


Alat pendidikan itu sendiri terdiri dari dua jenis yaitu alat pendidikan material dan alat pendidikan non material. Alat pendidikan material adalah segala bentuk perlengkapan yang digunakan untuk membantu proses belajar mengajar yang mencakup sarana dan prasarana. Sebaliknya, alat pendidikan non material adalah berupa suatu tindakan dan perbuatan atau situasi yang dengan sengaja dilakukan untuk membantu pencapaian tujuan pendidikan. Karakteristik alat pendidikan menjadi bagian yang perlu dipahami oleh pendidik dalam melaksanakan proses pendidikan.


Penggunaaan alat pendidikan dipengaruhi oleh kecakapan pendidik yang harus menyesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai, dan sebagai seorang pendidik sebaiknya harus menghindari tindakan yang memaksa. Penggunaan alat pendidikan juga dipengaruhi oleh pribadi yang akan memakainya. Pemakai alat pendidikan juga harus dapat menyesuaikan diri dengan tujuan yang dikandung oleh alat itu. Penggunaan alat pendidikan mempunyai hubungan yang erat dengan sifat kepribadian pemakainya yang merupakan sifat khas dari alat pendidikan

selain alat pendidikan, pada bab sebelumnya kita juga sudah membahas tentang macam-macam dan jenis pendidikan yang juga dipublikasikan 





DAFTAR PUSTAKA

Dari Buku:

Asnawir dan Basyiruddin Usman. 2002. Media Pembelajaran, Jakarta Selatan: Ciputat Press.

Abu Ahmadi, Nur Uhbiyati. 2003. Ilmu Pendidikan, Jakarta: Rineka Cipta.

Syukur, Fatah. 2004. Teknologi Pendidikan, Semarang: Rasail..


Related Posts