Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget Atas Posting

Makalah Dasar Dasar Pendidikan Tentang : Tujuan Pendidikan

 

Makalah Dasar Dasar Pendidikan Tentang : Tujuan Pendidikan


DAFTAR ISI


مقدمة  1  

BAB     I      PENDAHULUAN

                    A. LATAR BELAKANG  2

                    B. RUMUSAN MASALAH  2

                    C. TUJUAN  2

BAB     II     PEMBAHASAN

                    A. TUJUAN PENDIDIKAN  3

                    B. MACAM-MACAM TUJUAN PENDIDIKAN  5

                    C. TUJUAN PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN 

                         DI INDONESIA  8   

BAB     III    PENUTUP

                    A.KESIMPULAN  14

                    B. SARAN  15

DAFTAR PUSTAKA 

                      
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

تقريبا كل الناس متعلمون ويقومون بالتعليم.لأن التعليم لا ينفصل أبدًا عن حياة الإنسان. يتلقى الأطفال التعليم 

من والديهم وعندما يكون هؤلاء الأطفال بالغين ولديهم أسر، فإنهم يقومون أيضًا بتعليم أطفالهم. وبالمثل في المدارس والكليات، يتم تعليم الطلاب والطلاب من قبل المعلمين والمحاضرين. لذلك، يمكن القول أن التعليم عملية أو نشاط يقوم به البشر. إذا نظرنا إلى التعليم على أنه عملية، فإن العملية ستنتهي في تحقيق الهدف النهائي للتعليمالهدف الذي يجب تحقيقه عن طريق التعليم هو في الأساس مظهر من مظاهر القيم المثالية التي تشكلت في الإنسان المطلوب لكل مؤسسة أهداف تعليمية مختلفة. ومع ذلك، يجب ألا ينحرف كل هدف عن الهدف الوطني.


B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakah yang dimaksud dengan tujuan pendidikan ?

2. Apakah tujuan pendidikan secara umum ?

3. Apa saja macam-macam tujuan pendidikan ?

4. Apakah tujuan pendidikan danpengajaran Indonesi

C. TUJUAN

1. Mengetahui tujuan pendidikan 

2. Mengetahui tujuan pendidikan secara umum

3. Mengetahui macam-macam tujuan pendidikan

4. Mengetahui tujuan pendidikan dan pengajaran Indonesia


BAB II
PEMBAHASAN

A. TUJUAN PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan hal yang sudah ada sejak zaman dahulu. Menurut sejarah bangsa Yunani, tujuan pendidikan adalah ketentraman. Dengan kata lain, tujuan pendidikan menurut bangsa Yunani adalah untuk menciptakan kedamaian dalam kehidupan. Tujuan pendidikan adalah seperangkat hasil pendidikan yang dicapai oleh peserta didik setelah diselenggatan kegiatan pendidikan.  Beberapa tokoh memiliki definisi masing-masing untuk tujuan pendidikan, diantaranya:

a) Ki Hadjar Dewantoro

Tujuan pendidikan adalah untuk mendidik anak agar menjadi manusia yang sempurna hidupnya, yaitu kehidupan dan penghidupan manusia yangselaras dengan alamnya (kodratnya) dan masyarakatnya.

b) Friedrich Frobe

        Tujuan pendidikan adalah membentuk anak menjadi makhluk aktif dan kreatif.

c) John Dewey

 Tujuan pendidikan adalah membentuk anak menjadi anggota masyarakat yang baik, yaitu anggota masyarakat yang mempunyai kecakapan praktis dan dapat memecahkan problem sosial sehari-hari dengan baik. 

Sementara itu, Negara Indonesia memiliki tujuan pendidikan yang diatur dalam UUD 1945 dan Undang-Undang No.20 Tahun 2003. Menurut UUD 1945, tujuan pendidikan nasional diatur dalam pasal 31 ayat 3 dan pasal 31 ayat 5. UUD 1945 Pasal 31 ayat 3 menyebutkan “Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa yang diatur dengan undang-undang”.

Sementara UUD 1945 Pasal 31 ayat 5 menyebutkan “Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”. Menurut Undang-Undang No.20 Tahun 2003, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional juga untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

B. MACAM – MACAM TUJUAN PENDIDIKAN
1. Macam – Macam Tujuan Pendidikan Menurut M.J Langeveld

Berdasarkan ruang lingkup (luas dan sempitnya) tujuan yang ingin dicapai,   Langeveld mengemukakan bahwa jenis-jenis tujuan pendidikan adalah :

a) Tujuan Umum

Tujuan umum adalah tujuan akhir yang akan dicapai oleh seseorang melalui pendidikan. Dengan demikian, apabila tujuan pendidikan adalah kedewasaan, maka semua kegiatan pendidikan harus tertuju pada kedewasaan agar tujuan umum pendidikan itu dapat tercapai. Menurut Kohnstamm dan Gunning, tujuan akhir pendidikan adalah membentuk insan kamil atau manusia sempurna. (Amir Daien,1973) sehingga dapat dikatakan bahwa tujuan umum/akhir pendidikan ialah membentuk insan kamil yang dewasa jasmani dan rohaninya baik secara moral,intelektual,social,estetis,dan agama.  Contoh: Seorang guru meminta siswa kelas 1 untuk merapikan crayon dan meja lipat setelah mewarnai, secara tidak langsung anak telah diajarkan tentang tanggungjawab. Sikap bertanggungjawab ini akan membentuk sebuah kedewasaan anak. 

b)   Tujuan Khusus

Tujuan khusus merupakan pengkhususan dari tujuan umum. Kita  tahu bahwa tujuan umum pendidikan adalah kedewasaan. Kedewasaan disini masih general sifatnya. Banyak faktor yang membentuk kedewasaan, sehingga dapat dikatakan tujuan khusus dari pendidikan mencakup segi-segi tertentu. Pengkhususan tujuan ini dapat disesuaikan dengan kondisi dan situasi tertentu, misalnya disesuaikan dengan: 

a. Jenis-jenis kelamin anak didik

b. Pembawaan anak didik 

c. Usia/taraf perkembangan anak didik 

d. Tugas lembaga yang mendidik anak seperti keluarga, sekolah, masyarakat, mesjid, dan   sebagainya. 

e. Falsafah negara 

c)   Tujuan Insidental/sesewaktu

Tujuan insidental (insiden: peristiwa), ialah tujuan yang menyangkut suatu peristiwa khusus. Boleh dikatakan sukar mencari hubungan antara tujuan insidental dengan tujuan umum (kedewasaan), namun sebenarnya tujuan insidental tersebut terarah kepada pencapaian tujuan umum. Contoh ; ibu melarang anaknya bermain di pintu terbuka, karena dapat menyebabkan kecelakaan terjepit pintu misalnya, atau karena pintu merupakan arah masuknya angin bisa saja anak masuk angin, atau mengganggu lalu lintas orang yang lewat di pintu.   

d)   Tujuan Sementara

Tujuan sementara ialah tujuan yang terdapat dalam langkah-langkah untuk mencapai tujuan umum (merupakan pijakan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi). Dengan kata lain, tujuan sementara adalah tujuan pendidikan yang dicapai seseorang pada setiap fase perkembangan. Misalnya; saat seorang anak diajarkan untuk dapat berjalan ia harus   mengalami beberapa tahapan dari merangkak, berdiri, berjalan terpatah-patah sampai akhirnya dia bisa berjalan. 

e)   Tujuan Tak Lengkap

      Tujuan tak lengkap adalah tujuan yang hanya membahas tentang salah satu aspek pendidikan. Tujuan ini erat hubungannya dengan aspek-aspek pendidikanyang akan membentuk aspek-aspek kepribadian manusia,seperti misalnya kecerdasan, moral, social, keagamaan, estetika, dan sebagainya.

 f)   Tujuan Intermedier/perantara

Tujuan perantara ini merupakan alat atau sarana untuk mencapai tujuan-tujuan yang lain. Misalnya saja seseorang yang bersekolah tujuannya adalah akhirnya adalah lulus, ketika dia naik kelas dari kelas satu ke kelas dua dan dari kelas dua ke kelas tiga itu merupakan tujuan intermedier/tujuan perantara.

Keenam tujuan tersebut menurut Langeveld intinya dapat disederhanakan menjadi satu macam saja, yaitu “tujuan umum” dimana kelima tujuan yang lainnya diarahkan untuk pencapaian tujuan umum pendidikan yaitu terbentuknya kehidupan sebagai insan kamil, satu kehidupan dimana ketiga inti hakikat manusia baik sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk susila/religius dapat terwujud secara harmonis.


2. Macam – Macam Tujuan Pendidikan Menurut Sistem Pembelajaran

     Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dibedakan dan disusun menurut hirarki sebagai berikut: 

a) Tujuan umum


      Tujuan pendidikan umum / nasional Indonesia adalah manusia yang berjiwa pancasila. Tujuan umum pendidikan berkenaan dengan kseluruhan peristiwa-peristiwa pendidikan dan merupakan tujuan dari keseluruhan jenis kegiatan dan waktu berlangsungnya peristiwa-peristiwa pendidikan.

b) Tujuan Institusional

     Ialah tujuan pendidikan yang akan dicapai menurut jenis dan tingkatan sekolah atau lembaga pendidikan masing-masing, biasanya tercantum dalam kurikulum sekolah atau lembaga pendidikan yang harus dicapai setelah belajar.

     Tujuan Institusional ini berbentuk Standar Kompetensi Lulusan. Standar Kompetensi Lulusan untuk satuan pendidikan dasar dan menengah digunakan sebagai pedoman penilaian dalam menentukan kelulusan peserta didik.

     Standar Kompetensi Lulusan tersebut meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran.

c) Tujuan Kurikuler

      Tujuan kurikuler umumnya dirumuskan dalam bentuk tujuan-tujuan kompetensi. Oleh para ahli, hakikat kompetensi diartikan dalam berbagai macam pengertian, sesuai dengan sudut pandang masing-masing. Tujuan kurikuler adalah tujuan kurikulum sekolah yang telah diperinci menurut bidang studi atau mata pelajaran atau kelompok mata pelajaran.

d) Tujuan Instruksional

      Tujuan intruksional adalah tujuan pokok bahasan atau tujuan sub pokok bahasan yang diajarkan oleh guru. Tujuan intruksional dibedakan menjadi dua macam yaitu tujuan intruksional umum (TIU) dan tujuan intruksional khusus (TIK) Tujuan intruksional khusus adalah tujuan pengajaran yang diharapkan dapat dicapai oleh siswa pada akhir tiap jam pelajaran, biasanya dibuat oleh guru yang dimuatkan didalam satuan pelajaran (satpel) atau dalam kurikulum saat ini dikenal dengan Standar kompetensi dan Kompetensi Dasar.

C. TUJUAN PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN DI INDONESIA

Tujuan Pendidikan menurut UU No. 4 Tahun 1950 RI: Tujuan pendidikan dan pengajaran ialah membentuk manusia susila yang cakap dan warga Negara yang demokratis, serta bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat dan tanah air.Tujuan Pendidikan untuk mencari penghidupan Sebagian ibu bapak menyerahkan anak-anaknya ke sekolah ialah supaya anak-anak mereka kelak dapat mencari penghidupan sendiri, bahkan dapat pula menolong orang tuanya di kemudian hari. Tujuan pendidikan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Sebagian guru-guru berpendapat, bahwa tujuan pendidikan ialah mengisi otak anak-anak dengan macam-macam ilmu pengetahuan serta menghafal ilmu-ilmu itu sehafal-hafalnya, supaya maju dalam ujian penghabisan, bahkan supaya mendapat nilai angka yang tinggi dan nomor satu dalam ujian itu. Tujuan pendidikan untuk kehidupan yang sempurna Menurut Herbert Spencer, bahwa tujuan pendidikan ialah menyiapkan manusia untuk kehidupan yang sempurna. Untuk menyiapkan kehidupan yang sempurna itu haruslah tabiat manusia dididik dengan sempurna dari segala seginya: jasmani, budi pekerti, hati, perasaan, tangan dan lidah.

      Tujuan Pendidikan dan pengajaran di Indonesia Tujuan pedidikan di tinjau kembali pada setiap sidang MPRS dan MPR telah merumuskan tujuan pendidikan tersebut:


a) TAP MPRS No XXXI/MPRS/1966

1. Mempertinggi kecerdasan dan keterampilan

2. Membina / perkembangan fisik yang kuat dan sehat.


b) TAP MPR No 4/MPR/1975

Tujuan pendidikan adalah membangun di bidang pendidikan didasarkan atas falsafah negara pancasila dan diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangun yang berpancasila.

c) TAP MPR No I MPR/1988

Tujuan pendidikan adalah berdasarkan pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang budiman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa

d)  TAP MPR No 2 MPR/1993

Tujuan pendidikan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME berbudi pekerti yang luhur, profesional, bertanggung jawab.


Dibawah ini beberapa tujuan pendidikan dan pengajaran di Indonesia

1. Anak Harus di Didik Menjadi Manusia Susila

a. Manusia susila ialah manusia yang hidupnya selalu menuruti dan sesuai dengan norma-norma kesusilaan yang sedang berlaku.

Aspek kehidupan susila adalah aspek ketiga setelah aspek individu dan sosial. Manusia dapat menetapkan tingkah laku yang baik dan yang buruk karena hanya manusia yang dapat menghayati norma-norma dalam kehidupannya. Kehidupan manusia yang tidak dapat lepas dari orang lain, membuat orang harus memiliki aturan-aturan norma. Aturan-aturan tersebut dibuat untuk menjadikan manusia menjadi lebih beradab. Manusia akan lebih menghargai nilai-nilai moral yang akan membawa mereka menjadi lebih baik.

Selain aturan-aturan norma, manusia juga memerlukan pendidikan yang dapat digunakan sebagai sarana mencapai kemakmuran dan kenyamanan hidup. Pendidikan dapat menjadikan manusia seutuhnya. Dengan pendidikan, manusia dapat mengerti dan memahami makna hidup dan penerapannya. Melalui pendidikan kita harus mampu menciptakan manusia yang bersusila, karena hanya dengan pendidikan kita dapat memanusiakan manusia. Melalui pendidikan pula manusia dapat menjadi lebih baik daripada keadaan sebelumnya. Dengan pendidikan ini, manusia juga dapat melaksanakan dengan baik norma-norma yang ada dalam suatu masyarakat. Manusia akan mematuhi norma-norma yang ada dalam masyarakat jika diberikan pendidikan yang tepat.

      

Dengan demikian, kelangsungan kehidupan masyarakat tersebut sangat tergantung pada tepat tidaknya suatu pendidikan mendidik seorang manusia mentaati norma, nilai dan kaidah masyarakat. Jika tidak maka manusia akan melakukan penyimpangan terhadap norma-norma yang telah disepakati bersama oleh masyarakat.


b. Dapatkah watak itu dididik? Atau lebih jelasnya lagi dapatkah anak itu dididik menjadi manusia yang berwatak susila?

Seorang ahli ilmu watak bangsa Belanda, Prof. Heymans, penganut aliran determinisme, meragukan akan berhasilnya pendidikan watak terhadap manusia. Ia berpendapat, dunia hanya dapat memperoleh orang-orang yang mempunyai tingkatan kesusilaan yang lebih tinggi dengan jalan memilih (seleksi) orang-orang mana yang boleh mempunyai keturunan.

Berlainan dengan pendapat Kershensteiner, seorang ahli ilmu jiwa bangsa Jerman, yang mengutarakan hal watak itu antara lain sebagai berikut:

1) Watak Biologis, yaitu watak yang berhubungan dengan nafsu dan insting yang rendah, yang terikat kepada kejasmanian. Menurut Kerschensteiner, watak biologis ini tidak dapat diubah dan dididik.

2) Watak inteligibel (watak budi), yaitu watak yang berhubungan dengan budi atau akal pikiran manusia, watak intelegibel inilah yang dapat diubah dan dididik. Watak ini mengandung unsur-unsur kekuatan kemauan, kejernihan keputusan,dan kehalusan perasaan. Maka jika kita akan memwatak anak, didiklah keempat unsur tersebut di atas seperti anak harus kita didik agar mempunyai kemauan yang keras keras untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan menjauhi segala sesuatu yang buruk. Anak harus dididik supaya berperasaan halus, yang berarti dengan perasaannya itu anak dapat mencintai segala yang baik dan membenci segala yang tidak baik, dan seterusnya.

Dalam hal ini, kita setuju dengan pendapat Kershensteiner. Kita tidak dapat dan tidak boleh membiarkan pertumbuhan anak-anak kita sekehendaknya. Anak-anak kita perlu pimpinan. Anak-anak perlu dididik watak dan kesusilaannya.

c. Mengapa pendidikan kesusilaan itu penting?

Yang dimaksud dengan pertanyaan ini ialah mengapa perlu sekali anak-anak kita dididik kesusilaannya? Mengapa justru mendidik anak-anak menjadi manusia susila diutamakan? Bukankah ada yang lebih penting lagi daripada kesusilaan itu, seperti mendidik anak-anak kita menjadi orang yang berilmu pengetahuan tinggi dan pandai mengurus negara atau pandai tentang pekerjaan teknik yang perlu bagi pembangunan negara?

Seperti yang telah dinyatakan dalam Undang-Undang Pendidikan Pasal 3 “pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Warisan-warisan dari zaman yang lalu, yang sekarang masih dapat kita lihat di berbagai lapangan dalam masyarakat kita ini, perlu dan harus diberantas. Perasaan kebangsaan yang tipis, persatuan yang sudah retak, sifat suka mementingkan diri sendiri, korupsi, mengkhianati bangsa dan negara, sifat pasif dan apatis, perasaan harga diri kurang, (minderwaardigheid complex), sifat acuh tak acuh kepada sesamanya dan sebagainya harus kita berantas.

Kepincangan-kepincangan tersebut tidak mungkin dapat kita lenyapkan dari masyarakat kita jika anak-anak atau generasi muda kita sekarang ini tidak kita bentuk, kita didik menjadi manusia yang kita cita-citakan sesuai dengan cita-cita pendidikan negara kita sekarang ini. Kesusilaan bukan hanya berarti bertingkah laku sopan santun, bertindak dengan lemah lembut, taat dan berbakti kepada orang tua saja seperti umumnya diartikan orang, melainkan lebih luas lagi dari itu. Selalu bertindak jujur, konsekuen, bertanggung jawab, cinta bangsa dan sesame manusia, mengabdi kepada rakyat dan Negara, berkemauan keras, berperasaan halus dan sebagainya termasuk norma-norma kesusilaan yang harus kita kembangkan dan kita tanamkan dalam hati sanubari anak-anak dan bangsa kita.

Selain hal tersebut di atas, ada lagi hal yang perlu kita perhatikan pula. Umumnya, kaum guru atau pendidik mengetahui bahwa pendidikan yang berlaku di Indonesia ini sedikit banyaknya masih bersifat intelektualistis dan verbalistis. Sekolah-sekolah kebanyakan masih sangat mementingkan pendidikan intelek, memompakan ilmu pengetahuan kepada otak anak-anak sehingga kurang atau tidak menghiraukan pendidikan-pendidikan yang lain, terutama pendidikan kesusilaan atau etika. Kita akan percuma mendidik anak-anak hanya untuk menjadi orang yang berilmu pengetahuan saja, tetapi jiwanya, wataknya tidak dibangun dan dibina. Masyarakat kita menghendaki pemimpin-pemimpin yang jujur, konsekuen, suka dan giat bekerja dan berkorban, tidak mementingkan diri sendiri.


Dengan singkat, kita katakan bahwa pendidikan kesusilaan atau membentuk manusia susila adalah sungguh-sungguh hal yang sangat penting, yang terutama yang harus dilaksanakan oleh para pendidik sebagai pembangun masyarakat dan negara dewasa ini dan selanjutnya.

2. Anak Harus di Didik Menjadi Manusia Cakap

Apakah yang dimaksud dengan manusia yang cakap? Samakah cakap itu dengan banyak pengetahuan? Bilamanakah orang itu dapat  disebut cakap?


Banyak orang yang menafsirkan cakap itu sama dengan “pandai” yang berarti banyak hafal tentang pelajaran yang diberikan di sekolah. Orang yang berpendirian demikian akan merasa puas jika murid-muridnya hafal dan dapat mereproduksi kembali pelajaran-pelajaran yang diberikan dan pertanyaan-pertanyaan atau soal-soal yang diajukan kepada mereka. Bagi pendidik yang demikian, cakap berarti memiliki pengetahuan banyak dan mendidik manusia cakap berarti memasukkan pengetahuan-pengetahuan intelektualistis dan nilai materil yang diutamakan. Kalau yang dimaksudkan dengan orang yang cakap seperti di atas, nyatalah bahwa itu tidak benar. Orang yang dididik demikian belum berarti bahwa ia tentu dapat menunaikan tugasnya di dalam masyarakat. Bahkan sering kita lihat yang sebaliknya.

Masyarakat membutuhkan syarat-syarat lain yang tertentu dari tiap-tiap anggotanya. Masyarakat membutuhkan orang-orang yang rajin dan giat melakukan tugasnya yang telag dipikulkan kepadanya, membutuhkan orang-orang yang dapat bertanggung jawab dan tahu akan kewajibannya, pandai menggunakan akal dan pikirannya atau berinisiatif dan melaksanakan tugasnya sehingga selalu mencari kebaikan dan kemajuan-kemajuan. Orang yang cakap tidak statis, apatis atau masa bodoh saja. Juga masyarakat membutuhkan orang yang dapat menempatkan diri, menyesuaikan diri dalam masyarakat sesuai dengan pembawaan, kecakapan dan kemampuannya. “The right man in the right place”.

Dalam masyarakat terdapat bermacam-macam jabatan dan pekerjaan yang masing-masing membutuhkan syarat-syarat dan kecakapan yang berlain-lainan dari anggota-anggotanya. Selain syarat-syarat pengetahuan atau kecakapan rohani, masyarakat memerlukan pula kecakapan jasmani atau ketangkasan.

Dari uraian di atas, nyatalah bahwa yang dimaksud dengan orang cakap itu tidak hanya orang yang banyak memiliki ilmu pengetahuan saja. Bahkan, bukan itu yang nomor satu. Orang disebut cakap jika orang itu pandai menggunakan daya-daya akal dan pikirannya dengan baik sehingga pekerjaan yang harus dilakukan dengan menggunakan daya-daya akal dan pikiran dapat berlangusng dengan cepat dan lancar. Demikian pula, kecapakan itu tidak akan membuahkan hasil yang baik jika tidak disertai dengan syarat-syarat kesusilaan. Susila dan cakap adalah dua hal yang selalu isi mengisi. Bahkan, dapat kita katakana bahwa kesusilaan adalah dasar bagi kecakapan. Lebih jelas lagi yang diperlukan oleh masyarakat kita ini adalah orang yang cakap menunaikan tugasnya dengan bersendikan kesusilaan.


3. Anak Harus di Didik Menjadi Warga Negara yang Demokratis serta Bertanggung Jawab atas Kesejahteraan Masyarakat dan Tanah Air

 Manusia adalah makhluk social, anggota suatu persekutuan : persekutuan masyarakat juga persekutuan bangsa. Dalam hal ini, maka tujuan pendidikan di arahkan kepada mendidik manusia sebagai makhluk masyarakat. Negara kita adalah Negara yang berdasarkan demokrasi ; suatu Negara yang kekuasaannya ada pada rakyat, yang pemerintahannya dipilih oleh rakyat, bukan ditentukan oleh seorang atau segolongan orang saja. Rakyatlah yang menentuka arah, kemana Negara kita itu akan dikemudikan, untuk apa Negara itu dimajukan dan dipertahankan.


Maka dari itu seharusnyalah peerintah mengusahakan mendidik warga negaranya menjadi warga Negara sejati. Tiap-tiap warga Negara harus turut bertanggung jawab atas kelancaran jalannya roda pemerintahan – tentu saja hal ini menurut kemapuan dan pekerjaan masing-masing dalam masyarakat- ang menuju kesejahteraan masyarakatnya. 

Untuk itu diperlukan bagi tiap-tiap warga Negara :


1) Suatu pengetahuan yang cukup tentang kewarganegaraan (civic), ketatanegaraan, kemasyarakatan, soal-soal pemerintah yang penting.

2) Suatu kesadaran dan kesanggupan, suatu semangat menjalankan tugasnya, dengan mendahulukan kepentingan Negara atau masyakarat daripada kepentingan sendiri atau kepentingan sekelompok kecil manusia.


BAB III
PENUTUP

A.  KESIMPULAN

     Tujuan pendidikan adalah suatu faktor yang amat sangat penting di dalam pendidikan, karena tujuan merupakan arah yang hendak dicapai atau yang hendak di tuju oleh pendidikan. Tujuan pendidikan juga dapat didefinisikan sebagai salah satu unsur dari pendidikan yang berupa rumusan tentang apa yang harus dicapai oleh para peserta didik.

Ada empat macam tujuan pendidikan yang tingkatan dan  luasnya berlainan. Yaitu tujuan umum atau pendidikan nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, dan tujuan instruksional.

M.J.Langeveld, mengemukakan 6 jenis tujuan pendidikan, yaitu sebagai berikut :


1) Tujuan akhir (umum, universal, dan total)

2) Pengkhususan tujuan umum

3) Tujuan tak lengkap (sementara)

4) Tujuan incidental

5) Tujuan tentative

6) Tujuan intermedier.


Tujuan pendidikan dan pengajaran dapat dibedakan dan disusun menurut hirarki sebagai berikut: 


1) Tujuan umum

2) Tujuan Institusional

3) Tujuan Kurikuler

4) Tujuan Instruksional


Tujuan Pendidikan dan pengajaran di Indonesia Tujuan pedidikan di tinjau kembali pada setiap sidang MPRS dan MPR telah merumuskan tujuan pendidikan tersebut:


1) TAP MPRS No XXXI/MPRS/1966

2) TAP MPR No 4/MPR/1975

3) TAP MPR No I MPR/1988.

4) TAP MPR No 2 MPR/1993 

B. SARAN

Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis mengharapkan kritikan yang membangun dari pihak pembaca agar makalah ini lebih baik. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.


DAFTAR PUSTAKA

Subari, Supervisi pendidikan, Surabaya ; Bumi Aksara, 1988, hal 11-12

Subari, Supervisi pendidikan, Surabaya ; Bumi Aksara, 1988, hal 22

Made Pidarta, Landasan Kependidikan, Jakarta, Rineka Cipta, 1997, hal 11


Posting Komentar untuk "Makalah Dasar Dasar Pendidikan Tentang : Tujuan Pendidikan"